Syarif: dari Amplas ke Pahat

MULANYA saya mengenal lelaki ini sebagai tukang amplas borongan. Syarif, lelaki asal Makassar, kelahiran 1981, beristeri satu, beranak dua. Ia bekerja di UD. Bahati Jaya sudah lebih dari empat tahun. Beberapa waktu lalu saya beranjangsana. Syarif sudah "naik pangkat" menjadi tukang ukir. Lumayan, berarti ada kemajuan taraf hidup baginya.
Seorang tukang amplas borongan akan memperoleh imbalan yang besarnya tergantung pada jumlah barang yang ia kerjakan. Sementara tukang amplas bulanan bergaji standar: antara 350 ribu sampai 450 ribu sebulan. [Ketika masih bekerja sebagai tukang amplas, saya dibayar 350.000. Ini bayaran pengamplas junior.]
Pengamplas borongan mesti punya keterampilan dan jam terbang lebih ketimbang kuli amplas bulanan. Bisa dipastikan, ukiran yang tergolong detail dan rumitlah yang dikerjakan dengan sistem borongan. Si pemesan pun biasanya memberi batas waktu yang relatif pendek kepada juragan.

Mereka, para pengamplas borongan, bekerja tanpa terikat waktu. Namun, bisa saja karena banyak pesanan, kuli-kuli itu harus lembur sampai tengah malam. Pada akhirnya, uang borongan akan jauh lebih tinggi dibanding gaji bulanan. Bisa dua kali lipat atau diatasnya.
Wajar kemudian jika tukang amplas borongan tidak mau dibayar bulanan. Kalau ini sampai terjadi, berarti "kiamat" untuk periuk nasinya. Pernah suatu kali seorang pengamplas borongan diturunkan menjadi bulanan. Alasan juragan, sedang sepi order. Kontan si tukang amplas mengomel tidak keruan. Tentu, tidak di muka juragan.
[Foto: Syarif sedang mengerjakan ornamen atap rumah tradisional suku Dayak Kalimantan Timur, lamin. Terima kasih untuk Syarif, yang sudah mau saya jepret. Selamat, sudah jadi "bintara" perajin ukiran Dayak.]


1 Comment Ente:
keren ukirannya
Post a Comment
<< Home