Saturday, November 25, 2006

Anshar, Pendekar Amplas

IA yang kali pertama mengajari saya cara mengamplas patung dan ukiran. Bukan asal mengamplas, melainkan melalui beberapa tahapan. Dari amplas kasar, amplas basah, sampai amplas halus. Untuk jenis ukiran tertentu, amplas gerinda diperlukan. Tekanan jari mesti pula diatur agar bentuk patung tak kacau. Ia juga membimbing saya, bagaimana mendeko dan menyemir ukiran.

Ia bernama Anshar. Seorang lelaki Bugis kelahiran Paloppo, Sulawesi Selatan. Ia tak pernah menikmati bangku sekolah. Anshar betul-betul buta huruf. Tapi soal duit, ia paham. Tanpa punya sanak saudara di Kalimantan Timur, Anshar merantau berbekal illiterasinya.

Meski umurnya empat tahun lebih muda dari saya, ia punya kelebihan dalam beberapa hal. Anshar pernah dikenal sebagai manusia terkuat di tempat saya bekerja dulu. Ia menjadi andalan juragan ketika kayu-kayu gelondongan bahan baku patung datang.

Nasib, ia cedera kemudian. Bahunya keseleo parah ketika mengangkat blambangan. Gelar "kuli terkuat" yang ia sandang selama beberapa masa, berpindah ke tangan kuli lain.

Anshar sempat berhenti menjadi tukang amplas. Lalu ia menjadi pemulung: mengumpulkan besi-besi bekas untuk dijual kepada seorang pengepul di Samarinda Seberang. Bosan memulung, ia kembali menekuni profesi semula: menjadi tukang amplas ukiran Dayak.


[Terima kasih kepada Margareth Sarita aka Anggie dari Tribun Kaltim atas pinjaman kameranya. Terima kasih untuk Siti Munawaroh dari Bisnis Indonesia, yang sudah bersedia menemani jalan-jalan ke tempat di mana saya pernah bekerja ini. Juga, untuk potret-potretnya. Buat Anshar, terima kasih sudah mau dijepret.]

0 Comment Ente:

Post a Comment

<< Home