Jumri Si Pengukir
JUMRI, namanya. Umur lelaki beretnis Kutai ini mendekati kepala empat. Punya satu isteri, dan tiga orang anak.
Sudah belasan tahun Jumri menjadi tukang ukir. Spesialisasinya, ukir Dayak. Jumri mahir pula membuat desain ukiran. Hampir semua buah tangannya murni ia punya kreasi: desain sendiri, pahatan sendiri. Jumri tak mengenal paten atau hak cipta. Ia sepertinya tak begitu peduli ciptaannya ditiru siapa pun.
Ia lulusan sebuah sekolah ukir setingkat SLTA di Tenggarong. Namun, tempat Jumri menimba ilmu itu tinggal cerita kini. Entah disulap jadi bangunan apa.
Patung setinggi empat kali tubuh orang dewasa sering ia bikin. Memenuhi pesanan, sekaligus menjalankan kewajibannya sebagai "kuli" pada seorang pengusaha di Samarinda. Beragam hasil pahatannya menghiasi beberapa bangunan penting di Kalimantan Timur. Karyanya tersebar ke beberapa negara: Jerman, Amerika Serikat, Malaysia dan Jepang. Beberapa kali Jumri memenangkan kejuaraan ukir.
Jumri tidak merokok. Saat jam istirahat, kadang ia pulang untuk makan siang. Tapi Jumri lebih sering membawa bekal nasi dari rumah.Entah kapan kehidupan ekonominya bakal membaik. Padahal ia sudah melakukan "jihad budaya": menekuni profesi sebagai pengukir tradisional Kalimantan Timur. Tak banyak angkatan muda yang masih mau sepertinya. Mungkin, bisa dihitung dengan jari.
Mudah-mudahan, Jumri bisa lebih "kreatif" menyikapi hidup. Sebab, siapakah gerangan yang akan peduli pada nasibmu...
[Terima kasih kepada Margareth Sarita aka Anggie dari Tribun Kaltim atas pinjaman kameranya. Terima kasih untuk Siti Munawaroh dari Bisnis Indonesia, yang sudah bersedia menemani jalan-jalan ke tempat di mana saya pernah bekerja ini. Juga, untuk potret-potretnya. Buat Jumri, terima kasih sudah mau dijepret.]


0 Comment Ente:
Post a Comment
<< Home