Saturday, December 16, 2006

Adat Buat Pemodal

KOMODIFIKASI adat dan seni tradisional terjadi mulai dari Sabang sampai Merauke. Dari Nunukan hingga Nusakambangan. Tujuannya tentu cuma satu: untung secara materi. Ada yang dimanfaatkan untuk keperluan politik [sesaat]. Ada yang dipakai untuk bisnis.

Jadi, sudah sepantasnya kita meninggalkan anggapan bahwa berkesenian dan berkebudayaan merupakan wujud idealisme. Bahwa kesenian, tak ubahnya profesi juga. Sama seperti pegawai bank. Sama seperti tukang kayu. Sama seperti wakil rakyat. Sama seperti lonthe. Semua manusia perlu uang untuk hidup.

Dan uang, bagaimana pun, selalu jauh lebih penting dari "segala hal yang irasional".

Pakaian adat wanita Dayak Kalimantan Timur dalam iklan tempe. Eh, komputer.

5 Comment Ente:

At 16 December, 2006 15:53, Anonymous budhe said...

Uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang he..he.. Apa kabar, Pak? Salam dari Surabaya..

 
At 16 December, 2006 15:57, Anonymous budhe said...

Kenal Bre Redana, Mas?

 
At 17 December, 2006 22:20, Anonymous sahrudin said...

mbak dena redana,
saya punya "dongeng untuk seorang wanita". juga "urban sensation!". juga "sarabande". ketiganya karya bre redana to? salah satu penulis yang saya idolakan, ya "don" alias bre redana itu. sayang, novelnya tentang arsitektur tak kunjung terbit pula.

 
At 18 January, 2007 14:12, Anonymous oRiDo said...

cuma mo sapa ucap salam kenal..

wassalam..

 
At 05 February, 2007 15:11, Anonymous windede said...

setidaknya, selain baju adat dayak yang eye catching itu, modelnya juga layak jual. daripada panjenengan yg jadi modal ntar komputernya ga laku lho hihihi...

 

Post a Comment

<< Home